Category Archives: POTENSI DIRI

EBOOK INGSUN SEJATI

EBOOK INGSUN SEJATI
Oleh: Ki Abduljabbar

Assalamu’alaikum wr wb,
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya selesai juga Ebook Ingsun Sejati, dengan judul “KULVITASI INGSUN SEJATI”. Ebook ini adalah ebook yang ke-2 setelah ebook pertama “PROVOKASI-PROVOKASI MANTRA”. di dalam Ebook ini lebih banyak mengupas tentang pemahaman penyerapan energi Illahiah (Nurrullah) melalui dzikir dan amalan-amalan serta bagaimana kita dapat sukses mengamalkannya.

Isi Ebook ini memang diharapkan ada kesempurnaannya, meskipun demikian ibarat tak ada gading yang tak retak, demikian juga pasti ada kekurangannya, oleh sebab itu mohon dimaklumi dan sekiranya ada masukan atau kritik untuk perbaikan ebook ini, saya sangat mengharapkan sekali. Format ebook adalah format Pdf dengan 2MB dan ukuran kertas A5, saya mohon maaf jika ada sedulur yang kesulitan untuk mendown loadnya, karena menggunakan HP. Untuk link down loadnya adalah sbb:

http://www.4shared.com/office/wiBoaUfq/INGSUN_SEJATI.html

Sebenarnya sudah dalam penyelesaian juga ebook Kulivitasi Ingsun Sejati Jilid 2, tetapi untuk ebook tsb mayoritas menggunakan metode BINAURALBEAT yaitu meditasi dengan mendengarkan getaran (gelombang) suara yang akan mengubah otak kita pada frekuensi tertentu. Di dalam ebook tsb ada tata cara inisiasi/attunenment pembangkitan Chakra dan Kundalini, Pembangkitan mata ke-3 (third eyes), Activasi DNA, dll. Dalam program pembuatan Ebook ke-3 ini saya mendapatkan bantuan peralatan BURN CD/DVD dari saudara kita dari Malaysia yg sekarang berkerja di Arab Saudi, beliau adalah Pakcik Zakaria bin Yaakub. Semoga Allah membalas kebaikan beliau. Aamiin….

Wassalam,

Advertisements

KONTEMPLASI DIRI DENGAN ENERGI ALLAH

KONTEMPLASI DIRI DENGAN ENERGI ALLAH

Oleh: Ki Abduljabbar

KONTEMPLASI adalah momen terpenting bagi seseorang untuk mengasah modal yg sdh dimilikinya untuk hidup berkualitas dan bermakna dalam kehidupan. Ibarat kontemplasi itu adalah sebuah pisau, jika masih tajam mampu menjadikan masalah menjadi berkah. Untuk mengasahnya perlu dilakukan secara terus menerus, yaitu melalui Tafakur, Tadabur dan Tasyakur.

Tafakur adalah media ketika seseorang menginstropeksi diri dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Berbicara dengan hati masing-masing sehingga mampu mendengarkan suara-suara dari Yang Maha Esa.

Tadabur mengandung makna lebih dalam. Tafakur merenung dan belajar ke dalam hati, tadabur belajar pada alam semesta (af’al), mengajak mereka bicara dan mendengarkan nasihat dari mereka. Inilah salah satu seni tertinggi dalam hidup, yaitu belajar mendengar.

Tasyakur adalah ekspresi diri atas keberhasilan antara tafakur dan tadabur sehingga melahirkan rasa syukur yang tinggi. Syukur dalam hal ini adalah syukur dalam arti sesungguh-nya, yaitu memberi dan memberi pada Alam Semesta. Memberi pada alam semesta ini sesuai fitrahnya penciptaannya adalah refleksi dari Ar-Rahman Ar-Rahiim, sehingga kita juga harus memberikan KASIH SAYANG (CINTA).

Bila kita tidak mengirim getaran sinyal rasa welas asih (CINTA) pada mereka, bagaimana mereka dapat menerima sinyal kita? Karena itu hati yang tulus sangat penting kita pancarkan ke alam semesta. Hati yang tulus dapat menggugah hati alam semesta untuk menyelimuti kita dan memberikan energinya (yang sejatinya bersumber dari energi-Nya) pada kita. Sebaliknya, hati yang tertutup dan keras membatu akan memancarkan energi penolakan sehingga antara kita dan alam semesta tidak bisa nyambung dan alam juga tidak akan membuka pintu energinya untuk kita. Bagaimana kita melakukannya?

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur’an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu,
4. Sebelum kau laksanakan haji dan umroh….

Bertanya Aisyah : “Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”. Rasul tersenyum dan bersabda;: “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.

“Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Qulhualloohu ahad’ Alloohushshomad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu ufuwan ahad” ( 3 x )

Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat: “Bismillaahirrohmaanirrohiim, Alloohumma shollii ‘alaa syaidinaa Muhammad wa’alaa aalii syaidinaa Muhammad”( 3 x )

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu;
“Astaghfirulloohal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih” ( 3 x )

Dan perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh; “Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Subhanalloohi Walhamdulil-laahi walaailaaha illalloohu alloohu akbar” (3 x )

Insya Allah jika Anda mendawamkan amalan ini menjelang tidur, Allah akan memberikan sinkronasi energi-Nya ke dalam diri Anda. Amalan ini akan lebih joss jika ditambahkan amaliah puasa sunah dibulan putih yaitu setiap bulannya pada tanggal 13; 14; 15 Hijriah, selama puasa pada tengah malam membaca doa JIBRIL a.s. yang telah saya posting di Blog Energi Sejati. Dengan demikian insya Allah apa yang menjadi perjalanan hidup kita selalu dimudahkan jalannya, karena energi Allah ta’ala dan energi alam semesta sudah menyatu ke dalam diri kita.

Wassalam….

KENALI AKIDAHMU

KENALI AKIDAHMU

Oleh: Bangun Joyo
bangun_joyo99@yahoo.co.id
Assalamu’alaikum wr wb. saya harap saudaraku semua membaca artikel ini karena sangat penting dan bermanfaat sehingga nantinya kita tidak terjebak oleh faham-faham sesat dan kesombongan intelektual. artikel ini saya ambil dari buku karangan guru mulia habib munzir al mussawa.
artkel ini berisi apa itu sebenarnya BID’AH, HUKUM TAWASUL, TAHLIL DLL
BID’AH
Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah Nabi  saw  memperbolehkan  kita  melakukan  Bid’ah  hasanah  selama  hal  itu  baik  dan tidak  menentang  syariah,  sebagaimana  sabda  beliau  saw  :  “Barangsiapa  membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat  hal  baru  yang  buruk  dalam  islam,  maka  baginya  dosanya  dan  dosa  orang  yang mengikutinya  dan  tak  dikurangkan  sedikitpun  dari  dosanya”  (Shahih  Muslim  hadits no.1017,  demikian  pula  diriwayatkan  pada  Shahih  Ibn  Khuzaimah,  Sunan  Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah Perhatikan  hadits  beliau  saw,  bukankah  beliau  saw  menganjurkan?,  maksudnya  bila kalian  mempunyai  suatu  pendapat  atau  gagasan  baru  yang  membuat  kebaikan  atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama,  merajalela  kemaksiatan,  maka  tentunya  pastilah  diperlukan  hal  hal  yang  baru demi  menjaga  muslimin  lebih  terjaga  dalam  kemuliaan,  demikianlah  bentuk kesempurnaan  agama  ini,  yang  tetap  akan  bisa  dipakai  hingga  akhir  zaman,  inilah makna ayat :  “ALYAUMA  AKMALTU  LAKUM  DIINUKUM…”,  yang  artinya  “hari  ini Kusempurnakan  untuk  kalian  agama  kalian,  kusempurnakan  pula  kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,   Maksudnya  semua  ajaran  telah  sempurna,  tak  perlu  lagi  ada  pendapat  lain  demi memperbaiki  agama  ini,  semua  hal  yang  baru  selama  itu  baik  sudah  masuk  dalam kategori  syariah  dan  sudah  direstui  oleh  Allah  dan  rasul  Nya,  alangkah  sempurnanya islam,  Bila  yang  dimaksud  adalah  tidak  ada  lagi  penambahan,  maka  pendapat  itu  salah, karena  setelah  ayat  ini  masih  ada  banyak  ayat  ayat  lain  turun,  masalah  hutang  dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu  masih  dimasuki  orang  musyrik  mengikuti  hajinya  orang  muslim,  mulai  kejadian turunnya  ayat  ini  maka  Musyrikin  tidak  lagi  masuk  masjidil  haram,  maka  membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja. Namun  tentunya  bukan  membuat  agama  baru  atau  syariat  baru  yang  bertentangan dengan  syariah  dan  sunnah  Rasul  saw,  atau  menghalalkan  apa  apa  yang  sudah diharamkan  oleh  Rasul  saw  atau  sebaliknya,  inilah  makna  hadits  beliau  saw  : “Barangsiapa  yang  membuat  buat  hal  baru  yang  berupa  keburukan…dst”,  inilah  yang disebut Bid’ah Dhalalah.
BID’AH
Kenalilah Akidahmu    5
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau  saw  memperbolehkannya  (hal  yang  baru  berupa  kebaikan),  menganjurkannya dan menyemangati  kita  untuk memperbuatnya,  agar  ummat  tidak tercekik  dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja,  maka  tentu  ini  adalah  pendapat  mereka  yang  dangkal  dalam  pemahaman syariah,  karena  hadits  diatas  jelas  jelas  tak  menyebutkan  pembatasan  hanya  untuk sedekah  saja,  terbukti  dengan  perbuatan  bid’ah  hasanah  oleh  para  Sahabat  dan Tabi’in.
 Siapakah  yang  pertama  memulai  Bid’ah  hasanah  setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika  terjadi  pembunuhan  besar  besaran  atas  para  sahabat  (Ahlul  yamaamah)  yang mereka  itu  para  Huffadh  (yang  hafal)  Alqur’an  dan  Ahli  Alqur’an  di  zaman  Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :  “Sungguh  Umar  (ra)  telah  datang  kepadaku  dan  melaporkan  pembunuhan  atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu  ia  menyarankan  agar  Aku  (Abubakar  Asshiddiq  ra)  mengumpulkan  dan  menulis Alqur’an,  aku  berkata  :  Bagaimana  aku  berbuat  suatu  hal  yang  tidak  diperbuat  oleh
Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan  merupakan  kebaikan,  dan  ia  terus  meyakinkanku  sampai  Allah  menjernihkan dadaku  dan  aku  setuju  dan  kini  aku  sependapat  dengan  Umar,  dan  engkau  (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah  mencatat  wahyu,  dan  sekarang  ikutilah  dan  kumpulkanlah  Alqur’an  dan  tulislah Alqur’an..!”  Berkata  Zeyd  :  “Demi  Allah  sungguh  bagiku  diperintah  memindahkan  sebuah  gunung daripada  gunung  gunung  tidak  seberat  perintahmu  padaku  untuk  mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”,    maka  Abubakar  ra  mengatakannya  bahwa  hal  itu  adalah  kebaikan,  hingga iapun  meyakinkanku  sampai  Allah  menjernihkan  dadaku  dan  aku  setuju  dan  kini  aku sependapat  dengan  mereka  berdua  dan  aku  mulai  mengumpulkan  Alqur’an”.  (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Nah  saudaraku,  bila  kita  perhatikan  konteks  diatas  Abubakar  shiddiq  ra  mengakui dengan  ucapannya  :  “sampai  Allah menjernihkan  dadaku  dan aku setuju  dan  kini aku sependapat  dengan  Umar”,  hatinya  jernih  menerima  hal  yang  baru  (bid’ah  hasanah) yaitu  mengumpulkan  Alqur’an,  karena  sebelumnya  alqur’an  belum  dikumpulkan menjadi  satu  buku,  tapi  terpisah  pisah  di  hafalan  sahabat,  ada  yang  tertulis  di  kulit onta,  di  tembok,  dihafal  dll,  ini  adalah  Bid’ah  hasanah,  justru  mereka  berdualah  yang memulainya. Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai  semua  bid’ah  adalah  kesesatan,  diriwayatkan  bahwa  Rasul  saw  selepas melakukan  shalat  subuh  beliau  saw  menghadap  kami  dan  menyampaikan  ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai  Rasulullah..  seakan  akan  ini  adalah  wasiat  untuk  perpisahan…,  maka  beri  wasiatlah  kami..”  maka  rasul  saw  bersabda  :  “Kuwasiatkan  kalian  untuk  bertakwa kepada  Allah,  mendengarkan  dan  taatlah  walaupun  kalian  dipimpin  oleh  seorang Budak  afrika,  sungguh  diantara  kalian  yang  berumur  panjang  akan  melihat  sangat banyak  ikhtilaf  perbedaan  pendapat,  maka  berpegang  teguhlah  pada  sunnahku  dan sunnah  khulafa’urrasyidin  yang  mereka  itu  pembawa  petunjuk,  gigitlah  kuat  kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal  yang  baru,  sungguh  semua  yang  Bid;ah  itu  adalah  kesesatan”.  (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329). Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah  khulafa’urrasyidin,  dan  sunnah  beliau  saw  telah  memperbolehkan  hal  yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan  menganjurkan,  bahkan  memerintahkan  hal  yang  baru,  yang  tidak  dilakukan oleh  Rasul  saw  yaitu  pembukuan  Alqur’an,  lalu  pula  selesai  penulisannya  dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw Nah..  sempurnalah  sudah  keempat  makhluk  termulia  di  ummat  ini,  khulafa’urrasyidin melakukan  bid’ah  hasanah,  Abubakar  shiddiq  ra  dimasa  kekhalifahannya memerintahkan  pengumpulan  Alqur’an,  lalu  kemudian  Umar  bin  Khattab  ra  pula dimasa  kekhalifahannya  memerintahkan  tarawih  berjamaah  dan  seraya  berkata  : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906)  lalu pula selesai penulisan Alqur’an  dimasa  Khalifah  Utsman  bin  Affan  ra  hingga  Alqur’an  kini  dikenal  dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat  Jumat,  tidak  pernah  dilakukan  dimasa  Rasul  saw,  tidak  dimasa  Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah  yang  salah  dan  tertuduh?,  siapakah  yang  lebih  mengerti  larangan  Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
Bid’ah Dhalalah
Jelaslah  sudah  bahwa  mereka  yang  menolak  bid’ah  hasanah  inilah  yang  termasuk pada  golongan  Bid’ah  dhalalah,  dan  Bid’ah  dhalalah  ini  banyak  jenisnya,  seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya  adalah  penolakan  atas  hal  baru  selama  itu  baik  dan  tak melanggar syariah,  karena  hal  ini  sudah  diperbolehkan  oleh  Rasul  saw  dan  dilakukan  oleh Khulafa’urrasyidin,  dan  Rasul  saw  telah  jelas  jelas  memberitahukan  bahwa  akan muncul  banyak  ikhtilaf,  berpeganglah  pada Sunnahku  dan  Sunnah  Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal  inilah  yang  merupakan  Bid’ah  dhalalah,  hal  yang  telah  diperingatkan  oleh  Rasul saw. Bila  kita  menafikan  (meniadakan)  adanya  Bid’ah  hasanah,  maka  kita  telah  menafikan dan  membid’ahkan  Kitab  Al-Quran  dan  Kitab  Hadits  yang  menjadi  panduan  ajaran pokok  Agama  Islam  karena  kedua  kitab  tersebut  (Al-Quran  dan  Hadits)  tidak  ada perintah  Rasulullah  saw  untuk  membukukannya  dalam  satu  kitab  masing-masing, melainkan  hal  itu  merupakan  ijma/kesepakatan  pendapat  para  Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat. Buku  hadits  seperti  Shahih  Bukhari,  shahih  Muslim  dll  inipun  tak  pernah  ada perintah Rasul  saw  untuk  membukukannya,  tak  pula  Khulafa’urrasyidin  memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu  pula  Ilmu  Musthalahulhadits,  Nahwu,  sharaf,  dan  lain-lain  sehingga  kita  dapat memahami  kedudukan  derajat  hadits,  ini  semua  adalah  perbuatan  Bid’ah  namun
Bid’ah Hasanah.
Demikian  pula  ucapan  “Radhiyallahu’anhu”  atas  sahabat,  tidak  pernah  diajarkan  oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka  para  sahabat  itu  diridhoi  Allah,  namun  tak  ada  dalam  Ayat  atau  hadits  Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan  para  Tabi’in  pada  Sahabat,  maka  mereka  menambahinya  dengan  ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula  kini  Al-Quran  yang  di  kasetkan,  di  CD  kan,  Program  Al-Quran  di  handphone,  Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah  yang  baik  yang  berfaedah  dan  untuk  tujuan  kemaslahatan  muslimin,  karena dengan  adanya  Bid’ah  hasanah  di  atas  maka  semakin  mudah  bagi  kita  untuk mempelajari  Al-Quran,  untuk  selalu  membaca  Al-Quran,  bahkan  untuk  menghafal  Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang  kalau  kita  menarik  mundur  kebelakang  sejarah  Islam,  bila  Al-Quran  tidak dibukukan  oleh  para  Sahabat  ra,  apa  sekiranya  yang  terjadi  pada  perkembangan sejarah Islam ?
Al-Quran  masih  bertebaran  di  tembok-tembok,  di  kulit  onta,  hafalan  para  Sahabat  ra yang  hanya  sebagian  dituliskan,  maka  akan  muncul  beribu-ribu  Versi  Al-Quran  di zaman  sekarang,  karena  semua  orang  akan  mengumpulkan  dan  membukukannya, yang  masing-masing  dengan  riwayatnya  sendiri,  maka  hancurlah  Al-Quran  dan hancurlah  Islam.  Namun  dengan  adanya  Bid’ah  Hasanah,  sekarang  kita  masih mengenal  Al-Quran  secara  utuh  dan  dengan  adanya  Bid’ah  Hasanah  ini  pula  kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah  sudah  sabda  Rasul  saw  yang  telah  membolehkannya,  beliau  saw  telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti  dimunculkan  kelak,  dan  beliau  saw  telah  melarang  hal  hal  baru  yang  berupa keburukan (Bid’ah dhalalah). Saudara  saudaraku,  jernihkan  hatimu  menerima  ini  semua,  ingatlah  ucapan Amirulmukminin  pertama  ini,  ketahuilah  ucapan  ucapannya  adalah  Mutiara  Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu  berkata  pula  Zeyd  bin  haritsah  ra  :”..bagaimana  kalian  berdua  (Abubakar  dan Umar)  berbuat  sesuatu  yang  tak  diperbuat  oleh  Rasulullah  saw?,    maka  Abubakar  ra mengatakannya  bahwa  hal  itu  adalah  kebaikan,  hingga  iapun(Abubakar  ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka  kuhimbau  saudara  saudaraku  muslimin  yang  kumuliakan,  hati  yang  jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,
Dan  curigalah  pada  dirimu  bila  kau  temukan  dirimu  mengingkari  hal  ini,  maka barangkali  hatimu  belum  dijernihkan  Allah,  karena  tak  mau  sependapat  dengan mereka,  belum  setuju dengan  pendapat  mereka, masih  menolak  bid’ah hasanah,  dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah  menjernihkan  sanubariku  dan  sanubari  kalian  hingga  sehati  dan  sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin
 Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1.  Al  Hafidh  Al  Muhaddits  Al  Imam  Muhammad  bin  Idris  Assyafii  rahimahullah
(Imam Syafii)
Berkata  Imam  Syafii  bahwa  bid’ah  terbagi  dua,  yaitu  bid’ah  mahmudah  (terpuji)  dan bid’ah madzmumah (tercela),  maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin  Khattab  ra  mengenai  shalat  tarawih  :  “inilah  sebaik  baik  bid’ah”.  (Tafsir  Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi  ucapan  ini  (ucapan  Imam  Syafii),  maka  kukatakan  (Imam  Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah  hal  yang  baru,  dan  semua  Bid’ah  adalah  dhalalah”  (wa  syarrul  umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu  ‘anhum,  sungguh  telah  diperjelas  mengenai  hal  ini  oleh  hadits  lainnya  :  “Barangsiapa membuat  buat  hal  baru  yang  baik  dalam  islam,  maka  baginya  pahalanya  dan  pahala orang  yang  mengikutinya  dan  tak  berkurang  sedikitpun  dari  pahalanya,  dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan  dosa  orang  yang  mengikutinya”  (Shahih  Muslim  hadits  no.1017)  dan  hadits  ini merupakan  inti  penjelasan  mengenai  bid’ah  yang  baik  dan  bid’ah  yang  sesat”.  (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3.  Al  Muhaddits  Al  Hafidh  Al  Imam  Abu  Zakariya  Yahya  bin  Syaraf  Annawawiy
rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam,  maka  baginya  pahalanya  dan  pahala  orang  yang  mengikutinya  dan  tak berkurang  sedikitpun  dari  pahalanya,  dan  barangsiapa  membuat  buat  hal  baru  yang dosanya”,  hadits  ini  merupakan  anjuran  untuk  membuat  kebiasaan  kebiasaan  yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian  dari  sabda  beliau  saw  :  “semua  yang  baru  adalah  Bid’ah,  dan  semua yang  Bid’ah  adalah  sesat”,  sungguh  yang  dimaksudkan  adalah  hal  baru  yang  buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang  wajib,  Bid’ah  yang  mandub,  bid’ah  yang  mubah,  bid’ah  yang  makruh  dan  bid’ah yang haram. Bid’ah  yang  wajib  contohnya  adalah  mencantumkan  dalil  dalil  pada  ucapan  ucapan yang  menentang  kemungkaran,  contoh  bid’ah  yang  mandub  (mendapat  pahala  bila dilakukan  dan  tak  mendapat  dosa  bila  ditinggalkan)  adalah  membuat  buku  buku  ilmu syariah,  membangun  majelis  taklim  dan  pesantren,  dan  Bid;ah  yang  Mubah  adalah bermacam  macam  dari  jenis  makanan,  dan  Bid’ah  makruh  dan  haram  sudah  jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana  ucapan  Umar  ra  atas  jamaah  tarawih  bahwa  inilah  sebaik2  bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al  Hafidh  AL  Muhaddits  Al  Imam  Jalaluddin  Abdurrahman  Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits  “Bid’ah  Dhalalah”  ini  bermakna  “Aammun  makhsush”,  (sesuatu  yang umum  yang  ada  pengecualiannya),  seperti  firman  Allah  :  “…  yang  Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula  ayat  :  “Sungguh  telah  kupastikan  ketentuanku  untuk  memenuhi  jahannam dengan  jin  dan  manusia  keseluruhannya”  QS  Assajdah-13),  dan  pada kenyataannya  bukan  semua  manusia  masuk  neraka,  tapi  ayat  itu  bukan  bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189). Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para  Muhaddits  maka  mestilah  kita  berhati  hati  darimanakah  ilmu  mereka?, berdasarkan  apa  pemahaman  mereka?,  atau  seorang  yang  disebut  imam  padahal  ia tak  mencapai  derajat  hafidh  atau  muhaddits?,  atau  hanya  ucapan  orang  yang  tak punya  sanad,  hanya  menukil  menukil  hadits  dan  mentakwilkan  semaunya  tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
HADITS DHO’IF
HAD

SERAT MAKDUM SARPIN

SERAT MAKDUM SARPIN
Oleh: Ki Abduljabbar

Siapakah Aku?
Kenapa Aku diciptakan?
Kemana Aku setelah mati?

Banyak orang yg lupa akan jati dirinya, lupa siapa dirinya yg pada saat ruh ditiupkan sudah bersumpah bahwa tuhannya adalah Allah dan rasulnya adalah Muhammad SAW. Hal ini disebabkan karena manusia cenderung lupa akan tujuan Allah ta’ala menciptakan manusia. Sesungguhnya penciptaan alam semesta beserta isinya adalah cermin dari Allah ta’ala, merupakan refleksi sifat-sifat Allah. Sehingga seluruh alam semesta ini tawaf bergerak centrifugal yaitu gerakan ke arah kiri yang menarik energi kearah titik center, semua ini memberikan arti bahwa seluruh energi akan bergerak pada titik pusatnya yaitu Allah azza wajala.

Penciptaan Manusia selalu diikuti dengan penciptaan Malaikat seperti keterangan surat Al-Qur’an: QS13: Ar-ra’d : 11

LAHU MU’AQQIBAATUN MIN BAYNI YADAYHI WAMIN KHALFIHI YAHFAZHUUNAHU MIN AMRI ALLAAHI INNA ALLAAHA LAA YUGHAYYIRU MAA BIQAWMIN HATTAA YUGHAYYIRUU MAA BI-ANFUSIHIM WA-IDZAA ARAADA ALLAAHU BIQAWMIN SUU-AN FALAA MARADDA LAHU WAMAA LAHUM MIN DUUNIHI MIN WAALIN.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

QS 6: Al-Anaam:61
“WAHUWA ALQAAHIRU FAWQA ‘IBAADIHI WAYURSILU ‘ALAYKUM HAFAZHATAN HATTAA IDZAA JAA-A AHADAKUMU ALMAWTU TAWAFFAT-HU RUSULUNAA WAHUM LAA YUFARRITHUUNA”
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

Dua Ayat tsb di atas menunjukkan bahwa di dalam diri kita ini terdapat qorin malaikat yg bertujuan untuk membantu manusia mengatasi masalah hidup di dunia ini dan Malaikat-malaikat tsb hanya patuh kepada perintah Allah, bukan paturh kepada manusia. Karena manusia melupakan kesadaran tsb, sehingga yg muncul adalah khodam-khodam dari golongan jin, sehingga meskipun sholat kita rajin, ibadah lainnya kita lakukan, ternyata masih juga gampang manusia melakukan kedzaliman. Untuk mengatasi semua ini manusia memerlukan suatu amalan agar energi positif yang selaras dengan alam semesta serta malaikat tubuh manusia itu sendiri, bergerak centrifugal kepada sang Khaliq yaitu Allah Subhana wata ala. Inilah amalannya:

BISSMILLAHIRRAHMAANIR RAHIIM ….2X
BISSMILLAHI LAA ILLAAHA ILLALLAH ANTA,
LAA ILLAAHA ILLALLAH ANTA,
LAA ILLAAHA ILLALLAH INNI UHRO
LAA ILLAAHA ILLALLAH AMANA BILLAHI
LAA ILLAAHA ILLALLAH AMANATAN MIN INDILLAHI
LAA ILLAAHA ILLALLAHU MUHAMMADUN RASUULULLAAH SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
ALLAHUMA YA JIBRILLU, WA MIKA ILLU, WA ISROFILLU, WA IJROILLU
KOLLU HAIRIL MIN SULTHONI WASHRIF ‘ANNA SYARRIHI
KAF, HA, YA, ‘AIN, SHOD
HA, MIM, ‘AIN, SIN, KHOF
YA ALLAH  ‘AIN, SIN, KHOF
YA MUHAMMAD  ‘AIN, SIN KHOF
YA MUSTAFA  ‘AIN, SIN KHOF
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM BIRROHMATIKA YA ‘ARHAMAR ROHIMIN

Setiap selesai sholat fardhu, amalan tsb di atas dibaca 3x dengan 3 kali tarikan napas. Artinya baca amalan dgn menahan napas sampai 3x.
Pada amalan ini terdapai hizib Kama’in yaitu

KAF, HA, YA, ‘AIN, SHOD
HA, MIM, ‘AIN, SIN, KHOF

Huruf Kaf : Rahasia nya terbuka tabir.
Huruf Kaf ini bermakna kamalan. Kata kamalan berasal dari kata kamila-yakmalu-kamalan. Pda surah Al-Maidah 5:3, didalamnya terdapat kata berhuruf Kaf, Miim dan Lam. Firman Allah: Pada hari ini akmaltu (Aku sempurnakan) untuk kamu agama mu dan telah Aku cukupkan kepada mu nikmat Ku dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagi mu.
Menariknya ayat ini diturunkan pada saat umat Islam merayakan Aidil Adha/Hari Raya Haji.

Huruf Ha’ : Rahasia nya bermaksud Jiwa Keillahian yang keluar dari paru-paru sbagai ungkapan tasbih dan tahmid yang dia yakini bahwa dirinya dari Dia Al-Huwa, bermula diatas Al-Huwa dan berakhir pada Al-Huwa. Huruf Ha’ ini bermakna hidayatan. Kata akar terdiri dari huruf Ha’, Dal dan Ya. Maknanya berkisar pada dua hal:
Pertama, Tampil kedepan memberi petunjuk, dari sini lahir kata hadiy yang bermakna penunjuk jalan kerana ia tampil kedepan.
Kedua, menyampai dengan lemah lembut. Dari sini lahir kata hadiah yang berarti penyampaian sesuatu dengan lemah lembut. Pengantin perempuan dinamai al-hadiyu kerana keluarga menghantarnya kepada suami dengan lemah lembut. Dari akar kata yang sama juga lahir kata al-hadiyu ialah ‘ternakan’ yang dipersembahkan ke Kaabah sebagai tanda pendekatan diri kepada Allah dan untuk memohon kasih sayang Nya.

Huruf Ya : Rahasia nya Hati Rasulullah yakni hati yang mampu untuk menampung seluruh isi alam. Huruf Ya bermakna Yaqinan artinya keyakinan. Yakin adalah sifat ilmu diatas makrifat.

Huruf ‘Ain : Rahasia nya Hakikat Ujud. Ia asal segala yang ada.
Huruf ‘Ain bermakna ‘Ilman. Kata ‘ilman berasal dari kata ‘alima-ya’lamu-‘ilman. Ilmu berarti menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaannya yang sebenar. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf ‘Ain, Lam dan Miim dalam berbagai bentuknya untuk menggambar kan sesuatu dengan jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Allah SWT dinamai ‘Alim kerana pengetahuan Nya yang amat jelas sehingga terungkap segala-gala.

Huruf Shod : Rahasia nya keteguhan ilmu Arifbillah.
Huruf Shod bermakna Shabran. Kata Shabran berasal dari kata shabara-yashbiru-shabran yang maknanya adalah kesabaran. Firman Allah : Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi kerana kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan salam didalamnya.

Huruf Ha : Rahasia nya pengisian alam dengan keindahan.
Huruf Ha bermakna Hikmatan. Kata yang menggunakan huruf Ha, Kaf dan Miim ini berkisar maknanya pada ‘menghalangi’. Memilih perbuatan terbaik dari dua hal yang buruk pun dinamai hikmah dan pelaku nya dinamai hakim (bijaksana). Siapa yang tepat dalam penilaian dan dalam pengaturan Nya, dialah yang hakim.

Firman Allah : Allah menganugerahkan alhikmah. Dan barangsiapa yang dianugerahkan al-hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi kurnia yang banyak dan hanya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat mengambil pelajaran. (Al-Baqarah 2:269)

Huruf Miim : Rahasia Tauhid. Rahsia nya damai.
Huruf Miim bermakna maghfiratan. Kata maghfiratan berasal dari kata ghafara-yaghfiru-ghafran-ghufranan-maghfiratan. Kata ghafara berarti menutupi sesuatu dan mengampuni dosa, yakni penutupan dosa-dosa karena kemurahan dan anugerah Allah.

Huruf Miim juga bermakna mata’an yang maknanya kesenangan.

Huruf ‘Ain : rahasia nya hakikat ujud.
Huruf ‘Ain juga bermakna ‘Afwan. Kata ini berasal dari kata ‘afa-ya’fu-‘afwan. Kata yang terdiri dari huruf ‘ain, fa’ dan wauw. Dari sini lahir kata ‘afwu yang juga diartikan menutupi, bahkan dari rangkaian tiga huruf ini juga lahir makna terhapus atau habis tiada berbekas.

Huruf Sin : Rahasia nya Allah diatas arasy ujud.
Huruf Sin bermakna salamatan. Kata salamatan berasal dari kata salima-yaslamu-salamatan, yang maknanya keselamatan. Terdiri dari huruf sin, lam dan miim maknanya berkisar kepada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Allah memberi salam kepada hamba-hamba nya disurga kelak. Surah Yaasin 36:58 : Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Huruf Sin juga bermakna sa’adatan yang berasal dari kata sa’ida-yas’adu-sa’adatan yang bermakna kebahagian dan keberuntungan.

Huruf Qaf : Rahasia nya penerimaan curahan keyakinan.
Huruf Qaf bermakna qurban. Qurban berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurban-qurbanan yang bermakna kedekatan. Huruf Qaf bermakna qana’atan. Berasal dari qani’a-yaqna’u-qana’an-qana’atan yang secara bahasa bermakna rela atau suka menerima yang dibagikan kepadanya.

khaf: menutup semua/menguasai
ha: hak
ya: yang telah ditetapkan sebelumnya
‘ain : ucapan
shod: yang benar dan nyata.

menutup semua/menguasai hak yang telah ditetapkan sebelumnya dan ucapan yang benar dan nyata.
khaf ha ya ‘ain shod dibaca 333 x sangat bagus untuk mengisi semua ilmu dialam semesta.
baca bismillah khaf ha ya ‘ain shod 13 x tahan nafas, untuk mengobati, memproteksi apapun, mengisi ilmu ke benda /orang, dll

Demikianlah semoga bermanfaat dunia dan akhrat. Aamiin ya Rabbal alamin…

 

 

SAHADAT PAMUNGKAS

SAHADAT PAMUNGKAS

oleh: Ki Abduljabbar

“ASY HADU ALLAA ILAA HA ILLALLOOH WA ASY HADU ANNAMUKHAMMADAR ROSUULULLOOH
BISMILLAAHITTAMMATI QULLIHAA FA-AN”

baca sekuatnya (semampunya) tiup pada kedua telapak tangan usapkan kemuka. Khasiatnya rasakan sendiri.

Konsekuensi syahadat la ilaha illallah adalah meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Selain itu ia juga melahirkan sikap mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang berbuat syirik. Sedangkan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati Nabi, membenarkan sabdanya, meninggalkan larangannya, beramal dengan sunnahnya dan meninggalkan bid’ah, serta mendahulukan ucapannya di atas ucapan siapapun. Selain itu, ia juga melahirkan sikap mencintai orang-orang yang taat dan setia dengan sunnahnya dan membenci orang-orang yang durhaka dan menciptakan perkara-perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya.

Semoga ada manfaatnya. Aamiin…

%d bloggers like this: