KENALI AKIDAHMU

KENALI AKIDAHMU

Oleh: Bangun Joyo
bangun_joyo99@yahoo.co.id
Assalamu’alaikum wr wb. saya harap saudaraku semua membaca artikel ini karena sangat penting dan bermanfaat sehingga nantinya kita tidak terjebak oleh faham-faham sesat dan kesombongan intelektual. artikel ini saya ambil dari buku karangan guru mulia habib munzir al mussawa.
artkel ini berisi apa itu sebenarnya BID’AH, HUKUM TAWASUL, TAHLIL DLL
BID’AH
Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah Nabi  saw  memperbolehkan  kita  melakukan  Bid’ah  hasanah  selama  hal  itu  baik  dan tidak  menentang  syariah,  sebagaimana  sabda  beliau  saw  :  “Barangsiapa  membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat  hal  baru  yang  buruk  dalam  islam,  maka  baginya  dosanya  dan  dosa  orang  yang mengikutinya  dan  tak  dikurangkan  sedikitpun  dari  dosanya”  (Shahih  Muslim  hadits no.1017,  demikian  pula  diriwayatkan  pada  Shahih  Ibn  Khuzaimah,  Sunan  Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah Perhatikan  hadits  beliau  saw,  bukankah  beliau  saw  menganjurkan?,  maksudnya  bila kalian  mempunyai  suatu  pendapat  atau  gagasan  baru  yang  membuat  kebaikan  atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama,  merajalela  kemaksiatan,  maka  tentunya  pastilah  diperlukan  hal  hal  yang  baru demi  menjaga  muslimin  lebih  terjaga  dalam  kemuliaan,  demikianlah  bentuk kesempurnaan  agama  ini,  yang  tetap  akan  bisa  dipakai  hingga  akhir  zaman,  inilah makna ayat :  “ALYAUMA  AKMALTU  LAKUM  DIINUKUM…”,  yang  artinya  “hari  ini Kusempurnakan  untuk  kalian  agama  kalian,  kusempurnakan  pula  kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,   Maksudnya  semua  ajaran  telah  sempurna,  tak  perlu  lagi  ada  pendapat  lain  demi memperbaiki  agama  ini,  semua  hal  yang  baru  selama  itu  baik  sudah  masuk  dalam kategori  syariah  dan  sudah  direstui  oleh  Allah  dan  rasul  Nya,  alangkah  sempurnanya islam,  Bila  yang  dimaksud  adalah  tidak  ada  lagi  penambahan,  maka  pendapat  itu  salah, karena  setelah  ayat  ini  masih  ada  banyak  ayat  ayat  lain  turun,  masalah  hutang  dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu  masih  dimasuki  orang  musyrik  mengikuti  hajinya  orang  muslim,  mulai  kejadian turunnya  ayat  ini  maka  Musyrikin  tidak  lagi  masuk  masjidil  haram,  maka  membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja. Namun  tentunya  bukan  membuat  agama  baru  atau  syariat  baru  yang  bertentangan dengan  syariah  dan  sunnah  Rasul  saw,  atau  menghalalkan  apa  apa  yang  sudah diharamkan  oleh  Rasul  saw  atau  sebaliknya,  inilah  makna  hadits  beliau  saw  : “Barangsiapa  yang  membuat  buat  hal  baru  yang  berupa  keburukan…dst”,  inilah  yang disebut Bid’ah Dhalalah.
BID’AH
Kenalilah Akidahmu    5
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau  saw  memperbolehkannya  (hal  yang  baru  berupa  kebaikan),  menganjurkannya dan menyemangati  kita  untuk memperbuatnya,  agar  ummat  tidak tercekik  dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja,  maka  tentu  ini  adalah  pendapat  mereka  yang  dangkal  dalam  pemahaman syariah,  karena  hadits  diatas  jelas  jelas  tak  menyebutkan  pembatasan  hanya  untuk sedekah  saja,  terbukti  dengan  perbuatan  bid’ah  hasanah  oleh  para  Sahabat  dan Tabi’in.
 Siapakah  yang  pertama  memulai  Bid’ah  hasanah  setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika  terjadi  pembunuhan  besar  besaran  atas  para  sahabat  (Ahlul  yamaamah)  yang mereka  itu  para  Huffadh  (yang  hafal)  Alqur’an  dan  Ahli  Alqur’an  di  zaman  Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :  “Sungguh  Umar  (ra)  telah  datang  kepadaku  dan  melaporkan  pembunuhan  atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu  ia  menyarankan  agar  Aku  (Abubakar  Asshiddiq  ra)  mengumpulkan  dan  menulis Alqur’an,  aku  berkata  :  Bagaimana  aku  berbuat  suatu  hal  yang  tidak  diperbuat  oleh
Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan  merupakan  kebaikan,  dan  ia  terus  meyakinkanku  sampai  Allah  menjernihkan dadaku  dan  aku  setuju  dan  kini  aku  sependapat  dengan  Umar,  dan  engkau  (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah  mencatat  wahyu,  dan  sekarang  ikutilah  dan  kumpulkanlah  Alqur’an  dan  tulislah Alqur’an..!”  Berkata  Zeyd  :  “Demi  Allah  sungguh  bagiku  diperintah  memindahkan  sebuah  gunung daripada  gunung  gunung  tidak  seberat  perintahmu  padaku  untuk  mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”,    maka  Abubakar  ra  mengatakannya  bahwa  hal  itu  adalah  kebaikan,  hingga iapun  meyakinkanku  sampai  Allah  menjernihkan  dadaku  dan  aku  setuju  dan  kini  aku sependapat  dengan  mereka  berdua  dan  aku  mulai  mengumpulkan  Alqur’an”.  (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Nah  saudaraku,  bila  kita  perhatikan  konteks  diatas  Abubakar  shiddiq  ra  mengakui dengan  ucapannya  :  “sampai  Allah menjernihkan  dadaku  dan aku setuju  dan  kini aku sependapat  dengan  Umar”,  hatinya  jernih  menerima  hal  yang  baru  (bid’ah  hasanah) yaitu  mengumpulkan  Alqur’an,  karena  sebelumnya  alqur’an  belum  dikumpulkan menjadi  satu  buku,  tapi  terpisah  pisah  di  hafalan  sahabat,  ada  yang  tertulis  di  kulit onta,  di  tembok,  dihafal  dll,  ini  adalah  Bid’ah  hasanah,  justru  mereka  berdualah  yang memulainya. Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai  semua  bid’ah  adalah  kesesatan,  diriwayatkan  bahwa  Rasul  saw  selepas melakukan  shalat  subuh  beliau  saw  menghadap  kami  dan  menyampaikan  ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai  Rasulullah..  seakan  akan  ini  adalah  wasiat  untuk  perpisahan…,  maka  beri  wasiatlah  kami..”  maka  rasul  saw  bersabda  :  “Kuwasiatkan  kalian  untuk  bertakwa kepada  Allah,  mendengarkan  dan  taatlah  walaupun  kalian  dipimpin  oleh  seorang Budak  afrika,  sungguh  diantara  kalian  yang  berumur  panjang  akan  melihat  sangat banyak  ikhtilaf  perbedaan  pendapat,  maka  berpegang  teguhlah  pada  sunnahku  dan sunnah  khulafa’urrasyidin  yang  mereka  itu  pembawa  petunjuk,  gigitlah  kuat  kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal  yang  baru,  sungguh  semua  yang  Bid;ah  itu  adalah  kesesatan”.  (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329). Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah  khulafa’urrasyidin,  dan  sunnah  beliau  saw  telah  memperbolehkan  hal  yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan  menganjurkan,  bahkan  memerintahkan  hal  yang  baru,  yang  tidak  dilakukan oleh  Rasul  saw  yaitu  pembukuan  Alqur’an,  lalu  pula  selesai  penulisannya  dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw Nah..  sempurnalah  sudah  keempat  makhluk  termulia  di  ummat  ini,  khulafa’urrasyidin melakukan  bid’ah  hasanah,  Abubakar  shiddiq  ra  dimasa  kekhalifahannya memerintahkan  pengumpulan  Alqur’an,  lalu  kemudian  Umar  bin  Khattab  ra  pula dimasa  kekhalifahannya  memerintahkan  tarawih  berjamaah  dan  seraya  berkata  : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906)  lalu pula selesai penulisan Alqur’an  dimasa  Khalifah  Utsman  bin  Affan  ra  hingga  Alqur’an  kini  dikenal  dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat  Jumat,  tidak  pernah  dilakukan  dimasa  Rasul  saw,  tidak  dimasa  Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah  yang  salah  dan  tertuduh?,  siapakah  yang  lebih  mengerti  larangan  Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
Bid’ah Dhalalah
Jelaslah  sudah  bahwa  mereka  yang  menolak  bid’ah  hasanah  inilah  yang  termasuk pada  golongan  Bid’ah  dhalalah,  dan  Bid’ah  dhalalah  ini  banyak  jenisnya,  seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya  adalah  penolakan  atas  hal  baru  selama  itu  baik  dan  tak melanggar syariah,  karena  hal  ini  sudah  diperbolehkan  oleh  Rasul  saw  dan  dilakukan  oleh Khulafa’urrasyidin,  dan  Rasul  saw  telah  jelas  jelas  memberitahukan  bahwa  akan muncul  banyak  ikhtilaf,  berpeganglah  pada Sunnahku  dan  Sunnah  Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal  inilah  yang  merupakan  Bid’ah  dhalalah,  hal  yang  telah  diperingatkan  oleh  Rasul saw. Bila  kita  menafikan  (meniadakan)  adanya  Bid’ah  hasanah,  maka  kita  telah  menafikan dan  membid’ahkan  Kitab  Al-Quran  dan  Kitab  Hadits  yang  menjadi  panduan  ajaran pokok  Agama  Islam  karena  kedua  kitab  tersebut  (Al-Quran  dan  Hadits)  tidak  ada perintah  Rasulullah  saw  untuk  membukukannya  dalam  satu  kitab  masing-masing, melainkan  hal  itu  merupakan  ijma/kesepakatan  pendapat  para  Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat. Buku  hadits  seperti  Shahih  Bukhari,  shahih  Muslim  dll  inipun  tak  pernah  ada perintah Rasul  saw  untuk  membukukannya,  tak  pula  Khulafa’urrasyidin  memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu  pula  Ilmu  Musthalahulhadits,  Nahwu,  sharaf,  dan  lain-lain  sehingga  kita  dapat memahami  kedudukan  derajat  hadits,  ini  semua  adalah  perbuatan  Bid’ah  namun
Bid’ah Hasanah.
Demikian  pula  ucapan  “Radhiyallahu’anhu”  atas  sahabat,  tidak  pernah  diajarkan  oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka  para  sahabat  itu  diridhoi  Allah,  namun  tak  ada  dalam  Ayat  atau  hadits  Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan  para  Tabi’in  pada  Sahabat,  maka  mereka  menambahinya  dengan  ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula  kini  Al-Quran  yang  di  kasetkan,  di  CD  kan,  Program  Al-Quran  di  handphone,  Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah  yang  baik  yang  berfaedah  dan  untuk  tujuan  kemaslahatan  muslimin,  karena dengan  adanya  Bid’ah  hasanah  di  atas  maka  semakin  mudah  bagi  kita  untuk mempelajari  Al-Quran,  untuk  selalu  membaca  Al-Quran,  bahkan  untuk  menghafal  Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang  kalau  kita  menarik  mundur  kebelakang  sejarah  Islam,  bila  Al-Quran  tidak dibukukan  oleh  para  Sahabat  ra,  apa  sekiranya  yang  terjadi  pada  perkembangan sejarah Islam ?
Al-Quran  masih  bertebaran  di  tembok-tembok,  di  kulit  onta,  hafalan  para  Sahabat  ra yang  hanya  sebagian  dituliskan,  maka  akan  muncul  beribu-ribu  Versi  Al-Quran  di zaman  sekarang,  karena  semua  orang  akan  mengumpulkan  dan  membukukannya, yang  masing-masing  dengan  riwayatnya  sendiri,  maka  hancurlah  Al-Quran  dan hancurlah  Islam.  Namun  dengan  adanya  Bid’ah  Hasanah,  sekarang  kita  masih mengenal  Al-Quran  secara  utuh  dan  dengan  adanya  Bid’ah  Hasanah  ini  pula  kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah  sudah  sabda  Rasul  saw  yang  telah  membolehkannya,  beliau  saw  telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti  dimunculkan  kelak,  dan  beliau  saw  telah  melarang  hal  hal  baru  yang  berupa keburukan (Bid’ah dhalalah). Saudara  saudaraku,  jernihkan  hatimu  menerima  ini  semua,  ingatlah  ucapan Amirulmukminin  pertama  ini,  ketahuilah  ucapan  ucapannya  adalah  Mutiara  Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu  berkata  pula  Zeyd  bin  haritsah  ra  :”..bagaimana  kalian  berdua  (Abubakar  dan Umar)  berbuat  sesuatu  yang  tak  diperbuat  oleh  Rasulullah  saw?,    maka  Abubakar  ra mengatakannya  bahwa  hal  itu  adalah  kebaikan,  hingga  iapun(Abubakar  ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka  kuhimbau  saudara  saudaraku  muslimin  yang  kumuliakan,  hati  yang  jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,
Dan  curigalah  pada  dirimu  bila  kau  temukan  dirimu  mengingkari  hal  ini,  maka barangkali  hatimu  belum  dijernihkan  Allah,  karena  tak  mau  sependapat  dengan mereka,  belum  setuju dengan  pendapat  mereka, masih  menolak  bid’ah hasanah,  dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah  menjernihkan  sanubariku  dan  sanubari  kalian  hingga  sehati  dan  sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin
 Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1.  Al  Hafidh  Al  Muhaddits  Al  Imam  Muhammad  bin  Idris  Assyafii  rahimahullah
(Imam Syafii)
Berkata  Imam  Syafii  bahwa  bid’ah  terbagi  dua,  yaitu  bid’ah  mahmudah  (terpuji)  dan bid’ah madzmumah (tercela),  maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin  Khattab  ra  mengenai  shalat  tarawih  :  “inilah  sebaik  baik  bid’ah”.  (Tafsir  Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi  ucapan  ini  (ucapan  Imam  Syafii),  maka  kukatakan  (Imam  Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah  hal  yang  baru,  dan  semua  Bid’ah  adalah  dhalalah”  (wa  syarrul  umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu  ‘anhum,  sungguh  telah  diperjelas  mengenai  hal  ini  oleh  hadits  lainnya  :  “Barangsiapa membuat  buat  hal  baru  yang  baik  dalam  islam,  maka  baginya  pahalanya  dan  pahala orang  yang  mengikutinya  dan  tak  berkurang  sedikitpun  dari  pahalanya,  dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan  dosa  orang  yang  mengikutinya”  (Shahih  Muslim  hadits  no.1017)  dan  hadits  ini merupakan  inti  penjelasan  mengenai  bid’ah  yang  baik  dan  bid’ah  yang  sesat”.  (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3.  Al  Muhaddits  Al  Hafidh  Al  Imam  Abu  Zakariya  Yahya  bin  Syaraf  Annawawiy
rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam,  maka  baginya  pahalanya  dan  pahala  orang  yang  mengikutinya  dan  tak berkurang  sedikitpun  dari  pahalanya,  dan  barangsiapa  membuat  buat  hal  baru  yang dosanya”,  hadits  ini  merupakan  anjuran  untuk  membuat  kebiasaan  kebiasaan  yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian  dari  sabda  beliau  saw  :  “semua  yang  baru  adalah  Bid’ah,  dan  semua yang  Bid’ah  adalah  sesat”,  sungguh  yang  dimaksudkan  adalah  hal  baru  yang  buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang  wajib,  Bid’ah  yang  mandub,  bid’ah  yang  mubah,  bid’ah  yang  makruh  dan  bid’ah yang haram. Bid’ah  yang  wajib  contohnya  adalah  mencantumkan  dalil  dalil  pada  ucapan  ucapan yang  menentang  kemungkaran,  contoh  bid’ah  yang  mandub  (mendapat  pahala  bila dilakukan  dan  tak  mendapat  dosa  bila  ditinggalkan)  adalah  membuat  buku  buku  ilmu syariah,  membangun  majelis  taklim  dan  pesantren,  dan  Bid;ah  yang  Mubah  adalah bermacam  macam  dari  jenis  makanan,  dan  Bid’ah  makruh  dan  haram  sudah  jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana  ucapan  Umar  ra  atas  jamaah  tarawih  bahwa  inilah  sebaik2  bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al  Hafidh  AL  Muhaddits  Al  Imam  Jalaluddin  Abdurrahman  Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits  “Bid’ah  Dhalalah”  ini  bermakna  “Aammun  makhsush”,  (sesuatu  yang umum  yang  ada  pengecualiannya),  seperti  firman  Allah  :  “…  yang  Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula  ayat  :  “Sungguh  telah  kupastikan  ketentuanku  untuk  memenuhi  jahannam dengan  jin  dan  manusia  keseluruhannya”  QS  Assajdah-13),  dan  pada kenyataannya  bukan  semua  manusia  masuk  neraka,  tapi  ayat  itu  bukan  bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189). Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para  Muhaddits  maka  mestilah  kita  berhati  hati  darimanakah  ilmu  mereka?, berdasarkan  apa  pemahaman  mereka?,  atau  seorang  yang  disebut  imam  padahal  ia tak  mencapai  derajat  hafidh  atau  muhaddits?,  atau  hanya  ucapan  orang  yang  tak punya  sanad,  hanya  menukil  menukil  hadits  dan  mentakwilkan  semaunya  tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
HADITS DHO’IF
HAD

About Ki Abduljabbar

Kesadaran Sejati

Posted on 18/01/2012, in POTENSI DIRI. Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. artikel yg mantaf. trimakasih tlah menambah pemahaman.

  2. wow ternyata petromax

  3. Salam
    Ijin nyimak ki bangun joyo
    Terimakasih
    @ wah sdra GUNAWAN dapat petromax nih

  4. Josss… Mgkn kmas Bangun brkenan bahas lfdz “kullun” dlm hdits ttg bid’ah, kull bimakna “ba’dl” dan sbaliknya. Kbanyakan skrg smangatnya mmbara, tp bljar cuma dr buku trjmhan tnp ada guru, ktemu tmn yg kbetulan sm crnya, sm tulisan beda yg bc bs beda pmahaman, dipahami mnurut seleranya sndiri mngesampingkn pr alim dibidangnya, mlh bs ksasar lan nyasarake, capek deh…

  5. nambahin dikit ya kang bangun joyo:
    bid’ah sayydina umar ra : sholat tarawih pada masa abu bakar bermacam-macam ada yang 8, ada yang 20, ada yang 40, ada yang berjama’ah di masjid nabawi,ada yang berjama’ah dirumah, ada yang sendiri dirumah. sehingga oleh sayyidina umar diputuskan rakaat pertengahan yaitu 20 rakaat.dan dilakukan berjama’ah dimasjid nabawi karena beliau sering berpatroli keliling madinah takut umat islam mulai kendor ibadahnya.ini yang dijadikan pegangan 4 imam mujtahid mutlak ahli sunnah wal jama’ah. kecuali imam malik beliau menambahkan lagi 20 rakaat.
    bid’ah sayyidina ustman : saya bersyukur Allah menganugrahkan kecerdasan kepada sayyidina Ustman. karena beliaulah yang menambahkan harkat,hurup YA, Alif, dsb untuk mempermudah orang non arab membaca Al Qur’an. saya gak bisa membayangkan kalau Alqur’an tanpa bid’ah sayyidina utsman.orang harus bisa menguasai nahu, shorof dan balagah ( tata bahasa arab) jangan kan kita ulama saja banyak yang tidak menguasai ilmu balagah……
    semoga bermanfaat…….
    salam seteretanan dari orang boddoh…………………

    • Demikianlah anugerah Allah Ta’ala menjadikan manusia untik BERPIKIR, ancaman bagi manusia tidak berpikir jelas adalah NERAKA. Hakekat dari perintah Rasulullah SAW untuk menuntut ilmu, bahkan beliau bersabda satu orang yg berilmu lebih baik dari 1000 orang ahli ibadah. Hal ini menunjukkan kearifan beliau agar umatnya itu tidak menjadi STAGNAN, apriori terhadap ajaran beliau. Pesan beliau yg tidak boleh ditambahin adalah syareat sholat fardhu. Mohon maaf kalau tidak berkenan.

  6. hehehe….pembahasan yang berat buat awam seperti saya. Mengingatkan waktu dulu sering sama ustadz-ustadz saya. Saya tanda tangan saja ki. Tenang…Damai…

  7. ki bangu joyo

    subhanallah, tambahan yang sangat bagus sekali mas belma. shalat tarawih memang tidak ada pada zaman nabi. pada bulan ramadhan memang nabi mealukan shalat malam kemudian tidak melakukan shalt malam lagi. tarawih senditri memang benar dimulai pada zaman sayyidina umar. HATI-HATI TERHADAP PEMAHAMAN SESAT WAHABI!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: